Minggu, 05 Maret 2023

Review Fim Minions

 Minions The Rise of Gru 2




Kisah tak terduga tentang mimpi seorang anak berusia dua belas tahun untuk menjadi penjahat super terhebat di dunia.
Tanggal rilis: 29 Juni 2022 (Indonesia)
Sutradara: Kyle Balda
Box office: 939,4 juta USD
Anggaran: 80 juta USD
Didistribusikan oleh: Universal Studios

menebus 'dosa' film sebelumnya yang tak punya struktur cerita kuat dan seolah hanya mengeksploitasi kelucuan Minions. Sekuel ini sekaligus membuktikan bahwa Gru bukan hanya menjadi tuan, tapi juga nyawa bagi makhluk mini berwarna kuning tersebut.
Sekuel ini mengangkat perjalanan awal Gru pada 1970-an, bocah cilik berusia 12 tahun yang bercita-cita menjadi supervillain. Minions 2 juga mengisahkan awal mula hubungan Gru dengan Minions, persis melanjutkan akhir film pertamanya.

Dari aspek cerita, film ini punya premis yang ringan dan tidak muluk-muluk. Segmentasi film yang ditujukan untuk semua umur juga membuat Minions 2 tak perlu penulisan cerita yang megah atau penuh plot twist.

Ia cukup disajikan dengan cerita yang mudah dipahami dan mengalir dari satu bagian ke bagian lainnya agar dapat dinikmati anak kecil, juga tetap ditoleransi orang dewasa.

Cerita yang ringan itu diperkuat dengan adegan komedi khas waralaba Despicable Me. Sutradara Kyle Balda tampak paham menjaga batas dalam menyuguhkan kelakuan jenaka Minions dalam film ini sehingga terlihat tidak dipaksakan.

Seperti yang diutarakan sebelumnya, tingkah lucu Minions itu semakin bernyawa dengan kembalinya Gru (Steve Carell) dalam film ini. Kombinasi Gru dan Minions juga mengobati kerinduan penggemar yang merasa kehilangan saat menonton Minions (2015).

Tidak hanya itu, aksi kocak Minions semakin meriah dengan kehadiran Otto yang bergabung dengan trio Stuart Kevin dan Bob. Otto sukses mencuri perhatian dengan persona yang cerewet nan menggemaskan.

Sebagai proyek prekuel, Minions 2: The Rise of Gru juga menghadirkan banyak easter egg dari Despicable Me. Ini sekaligus menjadi momen nostalgia yang mendalam bagi penonton film-film Despicable Me.

Sejumlah referensi era 1970-an juga ditampilkan dalam film ini. Mulai dari latar tempat, busana para grup villain Vicious 6, hingga referensi seperti adegan Gru menonton Jaws (1975) bersama para Minions.

Sederet poin positif itu semakin lengkap dengan pilihan musik yang ciamik. Menonton Minions 2: The Rise of Gru benar-benar menjadi pengalaman menyenangkan berkat dukungan musik yang tepat di berbagai adegan.

Meski demikian, film ini tetap kesulitan menyeimbangkan seluruh aspek film. Salah satunya dalam mengisahkan Vicious 6, grup villain yang mengancam keselamatan Gru.

Walaupun grup villain itu dikenalkan dengan cara yang mudah dipahami, nasib Vicious 6 di pertengahan cerita tidak mendapat porsi yang signifikan. Mereka seolah hanya muncul pada satu-dua adegan untuk mengancam nyawa Gru.

Padahal, Vicious 6 punya potensi besar untuk dieksplorasi. Terutama karena grup villain itu punya profil anggota yang solid dan begitu didambakan Gru kecil.

Studio tampaknya belum cukup berani mengambil langkah gambling tersebut, sehingga memilih bermain aman dengan berfokus kepada karakter Gru dan Minions semata.

Di sisi lain, waralaba Despicable Me milik Illumination juga dihadapkan dengan tantangan baru setelah film ini. Setelah merilis lima film, kini studio wajib memutar otak untuk menghadirkan cerita yang segar.

Racikan komedi dengan mengandalkan Minions memang masih cukup manjur untuk mengundang tawa penonton. Namun, para penggemar sangat mungkin merasa bosan jika hal tersebut dijadikan senjata satu-satunya.

Mengeksplorasi karakter Minions menjadi pekerjaan rumah baru bagi Illumination jika studio tersebut ingin mempertahankan waralaba ini.

Meski begitu, pada akhirnya Minions 2: The Rise of Gru masih menunjukkan taji. Ia tetap sukses sebagai tontonan menghibur sekaligus pilihan tepat bagi orang-orang yang hanya ingin meringankan beban pikiran.


Review Teletubbies

 Teletubbies





Teletubbies adalah sebuah acara televisi asal Inggris yang dikhususkan untuk penonton anak-anak usia prasekolah, diciptakan oleh Anne Wood dan Andrew Davenport dari Ragdoll Productions. Wikipedia
Bahasa: InggrisWelsh
Durasi: 25 menit
Jaringan asli: BBC Two (31 Maret 1997–5 Januari 2001); CBeebies (9 November 2015-sekarang)
Jmlh. episode: 365

Teletubbies adalah sebuah acara televisi asal Inggris yang dikhususkan untuk penonton anak-anak usia prasekolah, diciptakan oleh Anne Wood dan Andrew Davenport dari Ragdoll Productions. Serial ini berfokus dengan kisah keseharian empat makhluk berwarna-warni, Tinky WinkyDipsyLala, dan Poo, yang dipanggil sebagai "Teletubbies" karena layar televisi yang tertanam di perut mereka. Teletubbies dapat dikenal tidak hanya dengan tubuh mereka yang memiliki warna yang mencolok, tetapi juga karena bentuk antena yang berbeda di kepala dari masing-masing karakter. Para Teletubbies berkomunikasi dengan celoteh yang didesain menyerupai suara bayi.[1]

Teletubbies versi aslinya ditayangkan pada 1997 hingga 2001.[2] Namun, program ini diproduksi kembali pada 2014, dan Teletubbies ditayangkan kembali dengan episode terbaru yang tayang perdana 9 November 2015.[3] Program ini tidak hanya sukses secara komersial[4] dan menjadi bagian dari budaya pop yang digemari anak-anak bahkan dewasa, tetapi juga telah memenangkan beberapa penghargaan, termasuk BAFTA[5] dan Daytime Emmy Awards di AS.[6]

Di InggrisTeletubbies ditayangkan melalui saluran televisi CBeebies. Di Indonesia, Teletubbies versi awal ditayangkan di Indosiar pada tahun 2000, sedangkan Teletubbies versi terbaru dari musim keenam dan seterusnya ditayangkan di GTV sejak tahun 2018 dengan judul Teletubbies Datang Lagi.

Program ini berlatar di sebuah lanskap rerumputan berbunga yang dihuni oleh kelinci dan suara cuitan burung yang terdengar di belakang layar. "Rumah" dari keempat makhluk Teletubbies adalah sebuah rumah bumi yang bernama "Tubbytronic Superdome" yang menyatu dengan tanah dan dapat diakses melalui lubang di atapnya atau pintu di kaki kubah. Para makhluk hidup bersama dengan beberapa tokoh, seperti Nonomesin penghisap debu berbentuk mirip gajah berwarna biru (pada series 2015 Nono berganti warna menjadi kuning dengan gradasi pink pada mulutnya), dan Voice Trumpets. Latar program yang penuh warna-warni dan memberikan aura menyenangkan didesain khusus untuk menarik perhatian bayi yang menonton, sekaligus mengedukasi bayi untuk mengenali dan menjelajah beragam hal terkait dengan kehidupan sehari-hari.

Terdapat beragam peristiwa yang sering kali muncul sepanjang episode, seperti berinteraksi yang menyenangkan di antara Teletubbies dan Voice Trumpets, kekacauan yang disebabkan oleh Nono, video anak-anak yang tampil dalam layar di perut Teletubbies, dan peristiwa ajaib yang muncul sekali dalam episode. Peristiwa ini sering kali berbeda-beda dan terjadi tanpa sebab yang jelas. Setiap episode akan ditutup oleh Voice Trumpets dan narator. Teletubbies biasanya akan mengekspresikan kekecewaan atau sesekali menolak untuk berpisah, tetapi mereka akan tetap mengucapkan perpisahan kepada para penonton sambil masuk kembali ke dalam Tubbytronic Superdome selagi Matahari terbenam.

Karakter utama

Dari kiri ke kanan: Dipsy, Lala, Poo, Tinky Winky
  • Tinky Winky (diperankan oleh Dave Thompson dan Simon Shelton di versi asli, dan Jeremiah Krage di versi 2015,[7] Ade Kurniawan (yang kini menjadi seiyu Spongebob) sebagai seiyu untuk penayangan versi Bahasa Indonesia) adalah Teletubby pertama, sekaligus yang paling besar dan paling tua. Ia adalah laki-laki berwarna ungu dengan antena berbentuk segitiga di kepalanya. Barang kesukaannya adalah tas tangan berwarna merah yang sering dibawanya.
  • Dipsy (diperankan oleh John Simmit di versi asli, dan Nick Kellington di versi 2015,[8] Revi Ansori sebagai seiyu untuk penayangan versi Bahasa Indonesia) adalah Teletubby kedua, laki-laki, berwarna hijau dengan antena berbentuk tongkat (bahasa Inggris: dipstick). Ia adalah Teletubbies yang paling keras kepala, dan terkadang menolak untuk bergabung dengan opini kelompok lain. Warna kulit di wajahnya sedikit lebih gelap dibandingkan Teletubbies lainnya, dan para kreator telah menyebut bahwa Dipsy adalah orang berkulit hitam.[9] Benda favoritnya adalah topi bercorak hitam putih yang menyerupai kulit sapi.
  • Lala (diperankan oleh Nikky Smedley di versi asli, dan Rebecca Hyland di versi 2015,[8] Clara Dewanti sebagai seiyu untuk penayangan versi Bahasa Indonesia) adalah Teletubby ketiga, perempuan, dengan warna kuning dengan antena yang berbentuk spiral (menyerupai rambut Upin). Lala adalah anak yang sangat manis, senang menyanyi dan berdansa, dan sering kali tampil mencari-cari Teletubbies lain. Mainan favoritnya adalah bola karet berwarna jingga yang sering ia gunakan untuk bermain bola.
  • Poo (diperankan oleh Pui Fan Lee di versi asli, dan Rachelle Beinart di versi 2015,[8] Hanimah sebagai seiyu untuk penayangan versi Bahasa Indonesia) adalah Teletubby keempat, perempuan, sekaligus yang paling pendek dan kecil. Tubuhnya berwarna merah dengan antena yang berbentuk lingkaran, menyerupai alat untuk membuat balon sabun. Poo biasanya berbicara dengan suara yang lebih halus, dan disebut oleh kreator sebagai orang Kanton.[9] Poo hobi bermain skuter.
  • Karakter pendukung

    • Nono (dibaca Nunu, dioperasikan oleh Mark Dean di versi asli dan Olly Taylor di versi 2015)[10] adalah mesin penyedot vakum yang menjadi penjaga sekaligus pembersih rumah para Teletubbies. Ia nyaris tidak pernah keluar dari Tubbytronic Superdome, lebih sering berada di dalam ruangan dan rutin membersihkan dengan hidung yang seperti penyedot. Ia berkomunikasi dengan suara yang menyerupai mulut yang sedang mencucup dan mengisap. Sesekali, ia 'merusak' dan mengisap segalanya, mulai dari kue tubby hingga selimut, sehingga membuat Teletubbies menyebutnya "Nono Nakal".
    • Voice Trumpets (disuarakan oleh Fearne Cotton, Jim Broadbent, dan Antonia Thomas di versi 2015)[11] adalah beberapa alat yang berbentuk mirip periskop yang muncul dari tanah dan berinteraksi dengan Teletubbies, sering kali mengajak bermain dan sekaligus pengawas mereka. Mereka adalah satu-satunya karakter yang dapat berbicara dengan normal.
    • Matahari Bayi (Sun Baby) (diperankan oleh Jess Smith di versi asli)[12] muncul di bagian awal dan akhir episode. Matahari dengan wajah bayi ini biasanya akan membangunkan para Teletubbies di pagi hari.
    • Beberapa kelinci Flemish Giant juga hidup di Teletubbyland. Para Teletubbies suka melihat mereka melompat dan bermain. Kelinci ini adalah satu-satunya jenis binatang Bumi yang dapat ditemukan di sana, tinggal di dalam lubang dan semak-semak.
    • Tubby Phone (disuarakan oleh Jane Horrocks)[11] adalah karakter baru yang dikenalkan di versi 2015. Tubby Phone dapat membuat "Tubby Phone dance" dan mengajak Teletubbies berjoget setelah mereka memencet tombol di telepon itu. Terkadang, telepon ini juga dapat membuat foto.
    • Tiddlytubbies (disuarakan oleh Teresa Gallagher) adalah para bayi Teletubbies yang muncul dalam versi 2015, dan diberi nama Mi-Mi, Daa Daa, Baa, Ping, RuRu, Nin, Duggle Dee, dan Umby Pumby.[13]

Review Luca (2021)


    senin 27 - februari - 2023


Luca (2021)


 

Luca adalah sebuah film animasi-komputer fantasi remaja Amerika Serikat yang akan dirilis dan diproduksi oleh Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios dan didistribusikan oleh Walt Disney Studios Motion Pictures. Wikipedia
Tanggal rilis awal: 13 Juni 2021
Sutradara: Enrico Casarosa
Box office: 49,8 juta USD

Akibat pandemi yang sempat menutup bioskop selama berbulan-bulan di 2020, Disney terpaksa merilis salah satu film Pixar yang berjudul Soul (2020) pada Desember lalu di Disney+. Walau sudah banyak bioskop yang telah dibuka di tengah pandemi, Disney tetap kembali memutuskan untuk merilis film Pixar terbaru di tahun ini, yaitu Luca, di Disney+.

Buat penggemar film Pixar, kalian pastinya enggak asing dengan film-film mereka yang berlatar pada salah satu kebudayaan negara tertentu, contohnya Coco (2017) yang berlatar di Meksiko atau Brave (2012) yang berlatar di Skotlandia. Kali ini, Pixar mengajak penontonnya untuk berjalan-jalan ke Italia lewat film Luca.

Dengan latar Italia di era 1950-an dan 1960-an, Luca berkisah tentang Luca Paguro, bocah monster laut yang penasaran dengan apa yang ada di daratan. Rasa penasarannya pun terjawab ketika dia bertemu dengan monster laut lainnya yang bernama Alberto Scorfano. Luca dan Alberto kemudian berteman dan mereka bersama-sama menjelajahi sebuah kota kecil yang bernama Portorosso.

Penggemar film Pixar pastinya sudah enggak asing dengan ciri khas studio film ini yang selalu menyajikan kisah dengan pesan mendalam yang mampu mengacak-acak hati penontonnya. Namun jika dibandingkan dengan film-film Pixar sebelumnya, jalan cerita yang ditampilkan Luca bisa dibilang jauh lebih ringan.

Film ini kurang lebih berkisah tentang seorang monster laut remaja yang sedang dalam fase ingin mencari tahu tentang hal yang dilarang oleh orang tuanya, yaitu dunia permukaan atau daratan. Hingga akhirnya Luca bertemu dengan monster laut sebayanya, yaitu Alberto, yang membuat dia berani “membangkang” orang tuanya dengan nekat pergi ke permukaan.

Baik Luca maupun Alberto diceritakan sebagai monster laut remaja yang sama sekali enggak memiliki pengalaman bergaul dengan orang yang sebaya. Alhasil, kalian bakal menyaksikan kisah persahabatan yang naif di antara keduanya. Luca yang begitu polos dengan dunia permukaan, begitu mudah dibuat kagum oleh Alberto yang sebenarnya enggak punya banyak pengetahuan tentang dunia permukaan.

Dinamika di antara keduanya tentu saja bakal mengingatkan kalian dengan hubungan pertemanan yang begitu polos saat masih anak-anak. Ditambah lagi dengan konflik kehadiran teman baru di antara Luca dan Alberto yang membuat kalian semakin relate dan bernostalgia dengan kenangan pertemanan yang terjadi di masa anak-anak.

Konflik yang dihadirkan Luca bisa dibilang enggak sekompleks film-film Pixar sebelumnya. Namun, kalian enggak perlu khawatir karena Pixar tetap enggak melupakan ciri khas mereka dengan menghadirkan adegan emosional di Luca. Namun, adegan emosional di film ini enggak sedramatis adegan emosional di film Pixar lainnya.

Jika ngomongin film Pixar, sebagian dari kalian mungkin langsung mengidentikkannya dengan sajian film animasi yang mampu membuat penonton menitikkan air mata. Seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya, Pixar memang enggak lupa menambahkan adegan emosional di Luca. Sayangnya, adegan emosional di film ini terasa enggak “senendang” seperti di film-film Pixar sebelumnya.

Dari segi cerita, Luca sebenarnya enggak menampilkan sesuatu yang unik dan fresh. Apalagi, konsep tentang makhluk laut yang penasaran dengan dunia daratan juga sudah bisa kalian temukan di beberapa judul film animasi lainnya, sebut saja The Little Mermaid (1989) atau Ponyo (2008).

Enggak ada yang salah dengan menggunakan konsep cerita yang telah digunakan di film lain. Namun, harus diimbangi juga dengan sesuatu yang spesial dari film tersebut. Nah, di sinilah Pixar seharusnya menunjukkan keahlian mereka dalam mengeksekusi adegan emosional yang mampu membuat penonton berlinangan air mata. Sayangnya, hal tersebut kurang tereksekusi dengan baik

Untuk urusan kualitas visual, kalian tentunya enggak perlu meragukan Pixar. Seperti film-film Pixar sebelumnya, Luca tentu saja menampilkan animasi yang enggak kalah indah. Di film ini, kalian bakal menemukan visual penuh warna yang memanjakan mata. Enggak hanya indah dari sisi pemandangannya saja, desain karakter Luca dan Alberto pun benar-benar menarik mata.

Pixar menggunakan perpaduan gradasi warna yang indah di tubuh Luca maupun Alberto. Ditambah lagi, transisi animasi perubahan fisik kedua karakter tersebut juga ditampilkan dengan begitu cepat. Penggambaran kota Portorosso-nya juga benar-benar kental dengan nuansa Italia-nya. Film ini seakan mengajak penonton untuk menikmati indahnya pesisir Italia walau hanya dalam bentuk animasi.

Luca bukanlah film Pixar yang sempurna. Namun dengan jalan ceritanya yang ringan, film ini tentu saja cocok dijadikan tontonan yang menghangatkan bersama keluarga. Apalagi, kisah persahabatan yang ditampilkan di film ini mampu membuat kalian terkenang dengan masa kecil.

Buat kalian yang belum nonton, film ini sudah bisa kalian tonton secara eksklusif di Disney+ Hotstar mulai 18 Juni 2021. Buat yang sudah nonton, apa pendapat kalian mengenai film ini?.

Minggu, 26 Februari 2023

Review Film: 'The Lion King'

 

            senin - 27 - februari - 2023


                                                  'The Lion King'


Setelah ayahnya terbunuh, Simba singa muda melarikan diri dari kelompoknya hanya untuk mempelajari arti sebenarnya dari tanggung jawab dan keberanian.

Tanggal rilis: 17 Juli 2019 (Indonesia)
Sutradara: Jon Favreau
Box office: 1,663 miliar USD
Bahasa: XhosaZulu

The lion king ketika dulu versi animasi dirilis pada 1994 dan selalu ditayangkan ulang berkali-kali di televisi, adalah film yang bisa menguras emosi bahkan air mata. Namun itu yang tak saya rasakan kala melihat versi live-action kali ini.

Dari segi cerita, The Lion King versi terbaru ini sepenuhnya persis dengan versi animasi. Akan tetapi, pengalaman menontonnya benar-benar berbeda.

Versi live-action dimulai dengan kemegahan alam liar beserta hewan-hewan di dalamnya. Penggambaran kedua hal itu ditambah dengan lagu 'Circle of Life' yang sama dengan versi animasinya berhasil membuat terpana ketika melihat film ini.

Hal itu sejujurnya bisa membuat penonton semakin semangat dan menantikan adegan-adegan selanjutnya.

Namun jangan terlalu berharap. Meskipun berkisah serupa, Disney melakukan sejumlah perbedaan yang justru membuat momen menyenangkan tak bertahan lama.

Perbedaan ini tampak dari perubahan karakter pada sejumlah tokoh, antara pada versi animasi dengan versi live-action. Sejumlah karakter tak lagi 'semanis' seperti di versi animasi, dan tokoh lainnya bahkan terasa kurang memiliki emosi.

Bisa dibilang sebagian besar adegan di The Lion King terbaru ini tanpa ekspresi. Parahnya, ekspresi dan emosi yang minim tersebut muncul di sejumlah adegan puncak yang dalam versi animasi bisa menguras air mata.

Hal 'kekurangan emosi' ini sebenarnya bisa dipahami karena The Lion King memutuskan untuk semirip mungkin dengan hewan nyata.

Namun Jon Favreau selaku sutradara tampaknya luput mengantisipasi masalah ini dengan aspek teknis lainnya.

Di sisi lain, kehadiran Pumba dan Timon sejatinya adalah penolong film ini. Mereka masih memiliki 'nyawa' yang sama dengan versi lawasnya. Bahkan lebih ekspresif sehingga mampu meningkatkan mood penonton.

Bukan hanya pada karakter yang terasa kurang emosional, masalah serupa juga terjadi dalam duet Simba dan Nala kala menyanyikan Can You Feel The Love Tonight.

Momen romantis yang mestinya muncul saat keduanya bernyanyi saat temaram senja seperti di versi animasi justru terasa jauh berbeda di versi live-action ini.

Bagi mereka yang merupakan penikmat animasi klasik Disney, seperti saya pula, The Lion King versi terbaru ini tak bisa memainkan emosi seperti yang dilakukan versi asli dulu.

Meski begitu, film ini masih bisa membuat penonton bernostalgia. Lagu-lagu lawas seperti Hakuna Matata, I Just Can't Wait to be King, serta Can You Feel the Love Tonight masih bisa membuat penonton ikut bersenandung.

Tepuk tangan layak diberikan kepada Hans Zimmer karena skoring musik yang sangat menolong film minim ekspresi ini. Skoring musik darinya tetap menyentuh perasaan sedari 25 tahun lalu.

Terlepas dari segala catatan merah yang saya rasakan, The Lion King masih amat bisa dinikmati terutama bagi orang-orang yang belum pernah menonton film ini sebelumnya.

Film yang sudah tayang di Indonesia sejak 17 Juli di seluruh saluran bioskop XXI, Cinemaxx, dan CGV ini tetap memanjakan mata penonton dengan visual yang apik tentang alam liar.



             senin 27 - februari - 2023



Review Film Moana

Film Tentang Gadis Pemberani Penunggang Laut




Moana adalah sebuah film petualangan fantasi musikal animasi komputer 3D Amerika 2016 yang diproduksi oleh Walt Disney Animation Studios dan film ke-56 dalam kanon fitur animasi Disney. Film tersebut disutradarai oleh Ron Clements, John Musker. Wikipedia
Tanggal rilis: 25 November 2016 (Indonesia)
Bahasa: Inggris
Distributor: Walt Disney Studios; Motion Pictures


Dibuka sama sebuah film animasi pendek yang sanggup bikin seisi studio tersenyum atau ketawa pelan, Disney akhirnya kembali menyuguhkan sebuah film animasi yang diperkirakan bakal jadi blockbuster menjelang akhir tahun. Yap, it’s Moana.

Sebagaimana film animasi lain yang juga diproduksi sama Disney, Moana berhasil jadi satu karya yang sama sekali nggak mengecewakan, penuh pesan moral, dan menginspirasi tentunya.

Moana mengisahkan seorang gadis berusia 16 tahun yang selalu penasaran dan tertarik buat mengarungi lautan. Sayang, panggilan yang ia rasakan itu nggak serta-merta direstui sama ayahnya, Chief Tui. Karena sebuah kejadian di masa lalu, Chief Tui menjadi cukup trauma sama ganasnya laut dan tidak ingin putrinya, Moana, “ditelan” oleh luasnya lautan.

Namun sekali waktu, Moana merasa terdesak untuk segera mengarungi lautan luas tersebut. Pasalnya, kondisi rakyat dan pulaunya lagi dalam keadaan “sekarat”. Panen kelapa menjadi nggak sebagus biasanya. Ikan-ikan di laut juga menghilang. Penduduk kebingungan dan khawatir akan kehidupan mereka.

Menurut cerita rakyat yang didengar Moana dari neneknya, semua kesekaratan itu rupanya disebabkan oleh sekaratnya Te Fiti, sang dewi pencipta kehidupan, karena jantungnya dicuri. Ya, jantung Te Fiti dicuri oleh sosok manusia setengah dewa bernama Maui. Jantung berupa spiral berwarna hijau itu kemudian jatuh ke tengah lautan, dan hilang, ketika Maui tak sanggup menjaganya.

Sampai suatu hari, jantung itu muncul di laut yang dekat dengan pulau Matunui, tempat tinggal Moana. Moana menemukannya dan ia pun merasa terpanggil untuk menemukan Maui dan memintanya mengembalikan jantung tersebut ke Te Fiti, agar kehidupan mereka dan hasil alamnya kembali membaik.

    Pesan Moral

Layaknya film animasi lain keluaran Disney, Moana pun nggak ketinggalan membawa begitu banyak pesan moral. Tentang keberanian dan ketangguhan seorang gadis yang mengorbankan kenyamanannya untuk menyelamatkan rakyatnya yang menderita.

Moana nyatanya sangat “berisi” buat kita yang mau terhibur dengan film animasi, namun tetap ingin mendapatkan pelajaran yang bisa menginspirasi semua kalangan, semua umur. Moana juga punya kisah yang sanggup bikin kita tersentuh alias baper. Padahal, filmnya bukan tentang cinta, melainkan tentang perjalanan seorang gadis pemberani dalam menaklukan laut.

Selain itu, kita juga bisa memelajari bagaimana Moana harus bergelut dengan batinnya buat mencari jati diri. Di saat ayahnya bersikeras menahan dia untuk tetap berada di pulau, ia ingin memenuhi keinginannya untuk mengarungi lautan. Terlebih karena itu adalah cara agar dia bisa melindungi rakyatnya. Wajar, karena Moana adalah kepala suku berikutnya.

Selain itu, kita juga bisa memelajari bagaimana Moana harus bergelut dengan batinnya buat mencari jati diri. Di saat ayahnya bersikeras menahan dia untuk tetap berada di pulau, ia ingin memenuhi keinginannya untuk mengarungi lautan. Terlebih karena itu adalah cara agar dia bisa melindungi rakyatnya. Wajar, karena Moana adalah kepala suku berikutnya.



Ada lagi karakter The Ocean yang memiliki tekad dan kegigihan. Khawatir akan masa depan Oceania, The Ocean ikut berperan dalam membantu Moana dan Maui menuntaskan misinya untuk menemui Te Fiti dan mengembalikan jantungnya.

Film yang disutradarai oleh John Musker dan Ron Clements ini juga menyuguhkan animasi yang luar biasa apik. Dengan hamparan laut yang terasa sungguhan, kehidupan yang terasa nyata, film ini benar-benar menghibur buat ditonton semua orang.

Lagu-lagu bikinan Lin-Manuel Miranda juga lumayan memanjakan telinga. Dinyanyikan langsung oleh para pengisi suara-nya, yakni Dwayne Johnson sebagai Maui dan Auli’I Cravalho sebagai Moana, lagu-lagu pengiring film animasi ini laras banget dinikmati indra pendengaran.


Secara keseluruhan, wajar rasanya kalau film ini disebut-sebut bakal menjadi film animasi Disney “besar” yang akan meraih pendapatan fantastis. Mengikuti kesuksesan film-film sebelumnya, seperti Brave, dan Frozen.

Jadi, HAI bisa bilang, film ini layak banget untuk kamu tonton segera. Buruan ajak keluarga, atau pacar, semua pasti bisa menikmatinya. Tunggu apalagi?


Review Fim Minions

 Minions The Rise of Gru 2 Kisah tak terduga tentang mimpi seorang anak berusia dua belas tahun untuk menjadi penjahat super terhebat di dun...